EN | ID

Pengembangan yang Bertanggung Jawab

Pengembangan yang Memperoleh Izin untuk Beroperasi

Quantum Power Asia mengintegrasikan perlindungan lingkungan dan sosial, pengelolaan lahan dan keterlibatan pemangku kepentingan yang bertanggung jawab, pengembangan kapasitas lokal, pengembangan masyarakat, serta penciptaan nilai nasional di seluruh tahapan pengembangan proyek. Hal ini merupakan bagian dari disiplin pengembangan yang berdampak komersial, dan diterapkan karena secara material memengaruhi kemampuan suatu proyek untuk memperoleh perizinan, pembiayaan, serta untuk dibangun dan dioperasikan

Keunggulan Komersial

Pengembangan yang Bertanggung Jawab Merupakan Bagian dari Rekayasa Proyek

Pendekatan Quantum terhadap pengembangan yang bertanggung jawab merupakan sumber keunggulan komersial sekaligus menjadi pembeda yang jelas di pasar. Yang membedakan Quantum adalah bagaimana bentuk disiplin ini dibangun ke dalam rekayasa proyek dan penataan struktur komersial sejak tahap inisiasi, dengan keterkaitan rantai pasok sebagai salah satu fokus utama.

Dengan merencanakan penyerapan tenaga kerja lokal, partisipasi pemasok yang memenuhi kualifikasi dan penciptaan nilai domestik sebagai bagian yang tak terpisahkan dari cara sebuah proyek didesain dan direalisasikan, Quantum menghasilkan infrastruktur yang selaras dengan prioritas pemerintah setempat, terintegrasi dengan perekonomian daerah yang dilayaninya, dan berada pada posisi yang lebih baik untuk melalui proses perizinan, pembiayaan dan pengoperasian jangka panjang.

Pendekatan yang sama memperluas ketersediaan modal bagi proyek Quantum. Hasil pengembangan yang terukur, partisipasi rantai pasok lokal yang terverifikasi, perlindungan lingkungan dan sosial yang kredibel serta penciptaan nilai dalam negeri yang berkelanjutan dapat memposisikan proyek untuk memperoleh fasilitas blended finance, impact investment, green and climate funds, concessional and sustainable finance serta sumber modal sejenis yang selaras dengan tujuan pengembangan.

Pendekatan Pengembangan Infrastruktur

  • Lahan memiliki penggunaan yang sudah berjalan dan klaim adat.
  • Pemerintah provinsi dan kabupaten memegang kewenangan nyata bersama regulator nasional.
  • Pengadaan lahan, perizinan, koneksi jaringan listrik, offtake dan pembiayaan berjalan sebagai alur kerja yang saling bergantung.
  • Identifikasi risiko sejak dini mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik ketika perubahan masih dapat dilakukan secara praktis dan terjangkau.

Kerangka Pengembangan yang Bertanggung Jawab

Cara Kami Mengembangkan Proyek Secara Bertanggung Jawab

Enam poin disiplin yang saling terhubung diterapkan di seluruh tahap inisiasi, penyusunan struktur, pengembangan dan pelaksanaan proyek

Prinsip Pengembangan

Hindari Terlebih Dahulu, Kemudian Minimalkan

Quantum menerapkan satu prinsip dalam perlindungan lingkungan, pengelolaan lahan dan keterlibatan pemangku kepentingan, serta dampak terhadap masyarakat: hindari dampak buruk terlebih dahulu, kemudian minimalkan, mitigasi dan pulihkan dampak yang tersisa. Penyaringan lokasi guna menyingkirkan lahan yang sensitif secara lingkungan, lahan yang dipersengketakan atau tidak dapat diverifikasi, serta lokasi yang dapat menyebabkan perpindahan atau mengganggu masyarakat sebelum komitmen terhadap proyek disepakati.

Prinsip yang Diterapkan dalam Praktik

Prinsip yang Diterapkan pada Pengembangan Nyata

Quantum Solar Gorontalo, Isimu

Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 14.7 MWp ini mencapai operasi komersial pada 24 Januari 2020 berdasarkan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) berjangka 20 tahun dengan PT PLN (Persero) dan memasok lebih dari separuh beban puncak Kota Gorontalo pada saat itu. Quantum telah melepas seluruh kepemilikannya atas proyek ini kepada Berkeley Energy, dan pembangkit tersebut tetap beroperasi di bawah kepemilikan baru.

Proyek Ekspor Energi Bersih Indonesia ke Singapura

Quantum telah memajukan proyek ini melalui pengembangan lahan, aspek pemerintahan, komersial dan teknis, termasuk persetujuan tata ruang atas 4.747 hektare di Kepulauan Riau pada 2023. Saat ini, proyek dirancang dengan pembangkitan PLTS sekitar 6 GWp, penyimpanan energi baterai sekitar 12 GWh dan infrastruktur transmisi bawah laut, dengan target penyaluran sekitar 1 GW listrik terbarukan yang andal ke Singapura.